Cerpen Tentang Etika Profesi Akuntansi

Senin, 22 Desember 2014
            Cermin dihadapanku mematulkan sesosok pria berpakaian kemeja lengan panjang yang tak begitu ketat dan rambut yang tertata dengan cukup rapi. Ya, itu diriku. Setelah menunggu selama berbulan-bulan setelah libur pasca wisuda, akhirnya aku mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang yang kutekuni selama kuliah di Universitas Gunadarma, yaitu sebagai seorang akuntan. Namaku Sebastian, seorang pemuda lajang berumur 23 tahun yang sedang mencari pekerjaan. Setelah mengirim lamaran di job fair yang diadakan di kampusku, akhirnya aku berhasil diterima di perusahaan swasta yang bergerak di bidang industri batubara di Jakarta.


            Setelah siap dengan peralatan yang kubawa, aku segera berangkat dengan menaiki sepeda motor yang telah menemani selama 4 tahun sejak aku kuliah. Hangatnya matahari pagi ini tak menyurutkan semangatku dalam bekerja, meskipun asap-asap kendaraan umum di kota ini cukup menyesakkan napas. Tidak sampai waktu 30 menit, aku akhirnya tiba diperusahaan yang menerimaku untuk bekerja.  Satpam didekat pintu masuktampak menatapku tajam, dan segera kuhampiri satpam yang kira-kira berusia 40 tahunan itu. “permisi pak, saya pegawai baru diperusahaan ini. Jika ingin menemui Pak Sukma jabatan accounting managerial disebelah mana ya pak?” tanyaku sambil membaca kartu nama yang diberikan saat lulus wawancara. “oh… Pak Sukma Sudrajat maksud mas? Naik aja dilantai 4 trus belok kiri lurus mentok kalo ada pertigaan, mas belok kanan, jalan aja pelan-pelan nanti dibelokan kedua ada jalan, mas masuk aja terus belok kiri, disana ada 2 ruangan, mas masuk aja salah satu. Kalo salah ya ruang yang satunya. Maklum mas saya udah tua jadi lupa-lupa inget.” Jawab satpam itu sambil memainkan kumisnya yang cukup tebal. “wahh.. repot juga ya.. yaudah deh makasih ya pak” jawabku kebingungan.

            Untung saja, daya ingatku tidak berkurang. Karena sudah terbiasa dengan soal kuis yang pasti mirip dengan soal UTS waktu kuliah, aku sekarang jadi mahir menghafal. Untung saja aku masuk Universitas Gunadarma. Setelah mengikuti langkah-langkah yang diberikan satpam tadi, akhirnya aku berhasil menemukan ruangan Pak Sukma tanpa kesulitan. Sebelum kuketuk pintunya, ku rapikan lagi dasi biru tua ku yang tadi agak longgar. Sambil mengambil nafas, kuketuk pintu ruangan itu dan langsung disambut dengan jawaban seseorang untuk masuk. Tampak seorang bapak-bapak dan dua orang staff pria dan satunya wanita tampak sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Langusng saja kuhampiri bapak-bapak yang sedang menulis sesuatu dimeja yang tercantum nama “Sukma Sudrajat”.
            “Selamat pagi pak, perkenalkan nama saya Sebastian, pegawai baru yang diterima pada saat diadakan jobfair di Universitas Gunadarma sebulan yang lalu. Saya diterima dilowongan staff akuntan.” Jawabku tegang namun lancar.
“ohh… iya, saya sudah dapat kabar dari manager rekruitmen. Saya kepala staff akuntan disini. Apa kamu benar-benar siap untuk bekerja?  Dunia akuntan tidak seperti yang anda bayangkan.” Jawab Pak Sukma.
“Saya sudah siap pak. Tetapi dunia akuntan yang tidak seperti saya bayangkan masih mengganjal dipikiran saya. Bisakah tolong bapak jelaskan lagi?” tanyaku kebingungan. Sambil menghela nafas selama beberapa detik dan menatap arah yang lain, pak Sukma kembali menatapku tajam sambil berkata pelan namun tegas. “Kejujuran. Sekarang kejujuran begitu sulit. Kalau kita jujur, pasti rugi. Maka dari itu perusahaan kami hanya ingin memperkerjaan pegawai yang mau diperintah untuk memanipulasi laporan keuangan. Melaporkan laba yang kecil, membesarkan pengeluaran, melaporkan pajak yang kecil. Yang penting kita bisa untung.” Jawabnya lugas.
            Aku hanya diam terpaku. Ini adalah pekerjaan pertama yang berhasil kuraih, tetapi aku harus bertindak layaknya seorang penipu. Apakah yang harus kulakukan? tetap menerima pekerjaan yang diberikan namun curang, atau mencari perusahaan baru? Ketukan pulpen pak Sukma memecahkan lamunanku. “Bagaimana Sebastian? Bila kamu nurut, kamu pasti dapat persenan kok. Mumpung kita ini ada pelaporan akhir tahun, direktur pusat yang memerintahkan ini. Jadi ini memang syarat dari direktur pusat untuk memilih akuntan yang bisa dikendalikan apalagi kamu fresh graduated kan? Lumayan nambah gaji.” Kata Pak Sukma.

            Dengan wajah tersenyum lebar dan berdiri, akhirnya aku menyalami Pak Sukma. “Terimakasih pak, atas tawaran anda. Namun sayang sekali, saya nggak bisa menerima tawaran bapak. Saya seorang akuntan  akuntan adalah perusahaan professional yang menjunjung tinggi kejujuran. Meskipun saya seorang fresh graduated, saya punya etika profesi akuntansi, pak. Itu yang menjadi dasar pedoman hidup saya. Tanpa mengurangi segala hormat, saya pamit permisi pak.” Jawabku dengan senyum kecil lalu beranjak keluar dari ruangan itu. Kedua staff lain yang tadi sibuk mengerjakan tugasnya hanya menatapiku dengan raut wajah yang tidak menyenangkan. Saat hendak  mencapai pintu keluar,  tiba-tiba terdengar teriakan dari Pak Sukma. “Sebastian! Selamat kamu lulus test awal!” jawab pak Sukma sambil bertepuk tangan disambut dengan tepuk tangan kedua staff lainnya.
            Aku masih terkejut dengan maksud Pak Sukma. Pak Sukma segera menghampiriku dan menyalamiku kembali. “Kamu adalah staff yang saya cari-cari. Apa kamu bisa lihat kenapa staff disini hanya dua orang? Karena dari puluhan hingga ratusan pelamar, hanya merekalah yang memiliki jawaban seperti kamu. Selamat datang di Staff accounting PT. Jujur Itu Manjur!!”


NB: CERITA INI HANYA FIKSI. APABILA ADA PERSAMAAN NAMA, TEMPAT DAN WAKTU MOHON DIMAKLUMIN YE… NAMANYA JUGA TUGAS CERPEN !!
Share

0 komentar:

Poskan Komentar