NOVEL "BREAKERS" : CHAPTER FOUR

Senin, 23 Desember 2013

Betapa kagetnya aku, 
sebuah bongkahan batu kristal bewarna merah,
berkilauan seolah bintang yang baru saja jatuh kebumi.
Dibawah batu itu terdapat secarik kertas yang bertuliskan
piece of Ifrit Stone”

Chapter 4 : Walking in The Silent

Kilauan batu merah ini sangat indah. Membuat setiap mata yang melihatnya ingin memiliknya. Bongkahan batu yang hanya selebar telapak tanganku itu kembali kubungkus dan kumasukan ke dalam tas ku agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi orang lain. Gadis rambut panjang itu kini memperhatikanku .
Apakah kau tahu batu itu? Itu batu yang sedang kucari. Untuk sementara ini kubiarkan kau menyimpannya.”
kuamati gadis itu dari atas hingga bawah. Seorang gadis yang berambut hitam panjang sepunggung, dengan poni yang menyamping kekiri tipis diatas matanya yang bertatapan tajam. Bila kuperhatikan wajah gadis ini, mungkin ia berasal dari Asia. Ia mengenakan seragam putih berkerah sailor dengan rok hitam diatas lututnya. Kaus kaki hitam yang panjang menutupi kakinya hingga lututnya. Penampilannya sama sekali tidak menunjukan bahwa ia menguasai ilmu beladiri,apalagi pembaca pikiran.
 

“apa yang kau lihat? Aku sedang malas membaca pikiranmu. Terlalu menjijikan.” gadis itu mengejek untuk kesekian kalinya.
“baiklah,nona. Terserah kau mau bilang apa tentang diriku. Tapi sebelumnya aku ucapkan terimakasih. Atas bantuanmu sehingga aku memiliki kekuatan ini. Tapi siapakah namamu?bisakah kau memperkenalkan diri? Aku tak bisa membaca pikiran sepertimu.” tanyaku dengan sedikit menyindirnya.
Gadis itu diam sejenak, lalu duduk dibangku tempat halte kami turun tadi. Ia tampak membungkukan setengah badannya dan menyangga kepalanya dengan kedua tangan yang dilipatkan seperti berdoa. Sepertinya ia cukup lelah. Hal itu dapat dilihat dari bola matanya yang sayu menatap langit dipagi ini yang tak begitu cerah, atau hampir mendung. Seperti menantikan rintikan hujan yang tak kunjung tiba. Ia menghela nafas sejenak.
“Namaku Ren. Ren Misumi. Aku baru pindah ke London sekitar sebulan yang lalu. Apakah itu cukup?” jawabnya sambil menoleh kearahku.

Tenyata gadis ini bernama Ren, sepertinya ia berasal dari jepang, kulihat dari tas ranselnya yang terdapat huruf kanji.
“apakah yang kau lakukan disini? Apakah tentang break?” ucapku penasaran.
“Bukan. Aku sedang ditugasi untuk memata-matai kakek itu. Terutama batu merah tadi. Tapi tak kusangka aku bisa menemukanmu yang ternyata berpotensi memiliki break sepertiku. Mungkin ini bonus dari pekerjaanku. Yang penting, misiku ini sudah selesai. Yaitu memastikan batu itu aman. Rowan, tolong jangan tunjukkan batu itu kepada siapapun.” pinta Ren.
“dan aku akan melanjutkan mengawasi kakek itu. Mungkin dia memiliki informasi tentang batu itu. Lagipula ternyata yang mengincar batu itu tidak hanya organisasiku.” matanya kini menatapku tajam.
“baiklah. Ini kartu nama kakek tadi. Namanya Ben Hudson” jawabku sambil menyerahkan kartu nama kakek itu. Ren tampak terdiam sambil menerawang lalu lintas yang sudah mulai padat oleh kendaraan.
“oh iya.. bukannya kau hari ini bersekolah? Kau ada upacara bukan?'' tanya Ren. Aku terkejut. Aku baru ingat bahwa sebentar lagi aku memimpin barisan upacara.

Dan ketika kulihat jam tanganku, jam menunjukan pukul 07.55 . lima menit lagi? Jarak jalan ini dengan sekolahku sekitar 3km. Jika berjalan kaki memakan waktu 15 menit paling cepat. Tapi kalau berlari, mungkin 10 menit kurang. Tapi mustahil bagiku untuk berlari. Mana mungkin aku memimpin upacara dengan tubuh basah penuh keringat dengan nafas yang hampir putus? Bisa-bisa aku ditertawakan oleh seluruh siswa disekolahku.
“hei.. bagimana bisa kau tahu aku ada upacara? Kau membaca pikiranku lagi ya? “ tanyaku mengintimidasi.
“dasar bodoh. Kau siswa akademi Marineford kan? Ada lambang sekolah diseragammu. Dan aku hari ini juga bersekolah disitu. Jadi tujuan kita sama, kesekolah.” jawan Ren dengan sedikit tertawa atas kebodohanku.
Aku sedikit malu atas kebodohanku. Namun itu tidak penting. Yang penting sekarang adalah bagaimana aku bisa menuju kesekolah dengan cepat tanpa terlambat. Aku hampir lupa, Bahwa aku memiliki break. Kekuatan yang dapat menghentikan waktu. Sungguh beruntungnya aku kekuatan ini berguna disaat penting seperti ini.

“Ren, maukah kau ikut aku kesekolah? Anggap saja balas budi dariku” kataku tersenyum sambil mengulurkan tanganku. Ren tampak terkejut oleh tindakanku. Sepertinya ia tak membaca pikiranku. Wajah Ren tampak memerah dan menundukan kepalanya dengan mengganguk pelan tanda setuju.
Setelah kami bergandengan tangan, aku menggunakan break-ku, Breaking Time. Cahaya hijau tampak keluar menyebar dari tubuhku. Cahaya itu menyebar dengan cepat. Setiap tempat yang terlintasi oleh cahaya itu menjadi suatu ruang hampa, dimana waktu dan sesuatu yang bergerak terhenti. Tampak kendaraan yang lalu lalang dijalan raya berhenti,hening dan sunyi. Tak ada suara klakson-klakson bising yang bersuara seperti biasanya. Tampak juga asap dari truk menggempal berbentuk seperti awan hitam menjadi suatu bentuk yang padat, dan tak bergerak. Kucing yang daritadi bermain dengan kupu-kupu juga tampak tak bergerak, padahal posisi kucing itu sedang melompat keatas namun tak jatuh.

Kupandang langit-langit diatas kepalaku, burung-burung kecil yang berterbangan tampak berhenti, namun juga tak jatuh. Kehampaan seperti inilah yang kadang-kadang merupakan kebahagiaan kecil dalam hatiku. Kupandang Ren yang masih menunduk, mungkin dia masih malu.
“Ren, kau ingin berjalan atau berlari?” tanyaku melunakkan suasana.
“terserah kau saja. Lebih cepat lebih baik. Tapi jalanpun tak masalah sih.” jawabnya yang menimbulkan pertanyaan ambigu dipikiranku.
“baiklah kita jalan saja. Aku sudah lelah dengan kejadian pagi ini. Dan aku tahu kau pun pasti lelah.” jawabku smabil berjalan, namun masih bergandengan tangan.
“Ren, apakah kau mendengarkanku berbicara dengan seseorang saat aku berada didalam jiwaku?” tanyaku tanpa menoleh kekanan, dimana Ren kini berada disamping kananku.
“tidak. Aku kehinlangan kontak denganmu saat kau memasuki pintu hitam. Jadi kau sudah bertemu dengannya? Seperti apakah dia?” tanya Ren tanpa menoleh kearahku juga.
“oh.. jadi kau tahu tentang suku nirvith didalam jiwaku? Dia bernama Tulo. Seorang yang berbadan tinggi, berambut putih dengan sepasang sayap putihnya. Baru kali ini aku melihat mahluk seperti itu.” jawabku bersemangat.
“ Oh.. Jadi namanya Tulo? Didalam jiwaku juga ada seseorang dari suku Nirvith. Namanya Velka. Dia sangat cantik. Dulu dia seorang pejuang wanita disukunya ketika perang'' kata Ren. Kali ini ia tampak lebih terbuka denganku.
“apakah kau sering berinteraksi dengannya? Bagaimana aku bisa berbicara dengan Tulo lagi?”
“Jika aku, aku memusatkan pikiranku terhadap mataku seperti menggunakan break, tapi tujuannya masuk kedalam jiwaku. Dan disaat aku berinteraksi, itu tidak memakan waktu didunia ini.” kata Ren menjelaskan dengan detil.
Aku ingat kata Tulo, bahwa tadi ia menjelaskan bahwa didalam jiwa tidak terdeteksi oleh dimensi waktu. “Oiya, aku ingin bertanya lagi.” pintaku.
Tanpa kusadari kami berjalan dengan lambat. Tidak seperti saat kuajak dia bergandengan tadi, langkah kami sungguh cepat karena kami masih saling malu-malu. Tapi saat ini kami sudah semakin akrab, itu menurutku.
aku ingin bertanya sesuatu. Tadi ketika aku berada didalam jiwaku, kau bilang bahwa kau dan yang lainnya membutuhkan kekuatanku. Siapakah yang lainnya itu? Apakah organisasimu mengetahui tentang break?” Kali ini aku menoleh kearahnya. Ren pun juga menoleh kearahku. Seperti ada sesuatu tarikan yang membuat kami saling menatap.

Mata kami bertatapan sepersekian detik. Seperti kedua kutub magnet yang saling bedekatan namun berusaha untuk menjauh, meski kami kini berada di area hampa waktu. Wajah Ren tampak manis, atau bahkan cantik. Baru kali ini aku berbicara dekat secara langsung dengan wanita selain Shierly, yang selalu mencubit pipiku ketika kutertidur dikelas. Kedekatanku dengan shierly pun sering membuat siswa laki-laki lainnya cemburu. Mereka tak habis pikir kenapa seorang siswa berbakat dan terkenal seperti Shierly bisa begitu dekat denganku yang kurang bersosialisasi dengan teman-teman sekolahku. Namun hubunganku dengan Shierly hanyalah sahabat sejak kecil. Ketika aku berumur lima tahun aku bertetangga dengan Shierly. Ayahku sering menitipkanku ke rumah Shierly ketika beliau hendak pergi bekerja. Shierly pun tinggal bersama ayahnya dan pengasuh yang sering mengurusku juga. Kami serasa seperti saudara. Pernah ketika ku duduk di bangku sekolah dasar, aku merayakan ulang tahun bersama Shierly dengan sebuah kue tart dengan nama kami berdua. Kami serasa seperti seorang kembar. Karena aku dan Shierly lahir pada tanggal yang sama. Itulah hal yang tak terlupakanku tentang Shierly.

Mata Ren tampak melototiku,”Apa yang kau lihat?kau pikir macam-macam lagi?” dengan sedikit marah seperti anak kecil.
“hmm.. kau benar. Yang lain yang kumaksud itu adalah organisasiku. Sebuah organisasi yang mendalami kasus diluar logika seperti ini. Dan rahasia tentang negaramu ini,Rowan.” kata Ren sambil memandang baliho gambar bendera Britain diantara gedung-gedung megah ini. Ren memandang gambar bendera Britain seperti berusaha mencari kebenaran yang disembunikan Britain, negaraku ini. “Rahasia apa maksudmu?” tanyaku keheranan sambil ikut memandang baliho gambar bendera Britain.
“Suatu saat nanti aku akan menceritakannya padamu.” jawab Ren seperti memberi janji yang pasti akan ditepatinya.
“baiklah, Akan ku tunggu janjimu. Dan aku akan membantumu semampuku.” ucapku seraya memberi janji juga terhadap Ren.

Tak terasa perbincangan kami yang sangat akrab harus segera berakhir. Perbincangan kami sudah mengantarkan kami ke depan pintu gerbang sekolahku. akademi Marineford. Sekolah menengah keatas yang cukup terkenal di London ini memiliki pintu gerbang tinggi yang bercat keemasan, dihiasi jeruji yang berujung mata tombak. Seperti sebuah pintu gerbang kastil kerajaan pada cerita jaman dahulu. Tiang kiri kanan yang mengapit pintu gerbang sekolahku dihiasi oleh ukiran-ukiran bunga yang indah. Dan diatas kedua tiang itu terdapat patung singa yang mengaum dengan gagahnya, menunjukan kesan megah dan glamour bagi sekolah lain. Serta memberi tekanan bagi sekolah lain yang akan bertanding basket dengan sekolah kami dalam kegiatan tertentu. Tapi sebenarnya siswa disekolah ini adalah siswa yang bersahaja. Mereka tidak pernah tampil mencolok seperti sekolah favorit lainnya, meskipun ada beberapa oknum disekolahku yang seperti itu. Namun oknum-oknum itu bisa dihitung dengan jari.

Dari luar gerbang tampak terlihat kolam air mancur dengan tiga patung dolphin yang menghiasinya. Kolam yang berada di dalam halaman sekolahku itu didesain oleh siswanya sendiri, atau mungkin peninggalan alumni siswa Marineford. Sekolah yang memiliki warna kebanggaan biru laut ini memiliki fasilitas yang cukup lengkap, seperti kolam renang, lapangan basket,sepakbola dan baseball. Terdapat pula ruangan berkebun bagi mereka yang mencintai tanaman. Gedung sekolahku yang memiliki tujuh lantai yang termasuk atap sekolah, terlihat tinggi kokoh bila kulihat dari luar. Akhirnya harus kusudahi kebersamaanku dengan Ren saat ini. Karena tak mungkin aku masuk ke sekolahku dengan bergandengan tangan seperti layaknya orang berpacaran. Atau bisa-bisa aku menjadi topik hangat di sekolahku ini dengan judul “Orang kuper memiliki pacar siswa baru”.
“Ren, kita sudah sampai. Aku senang bisa berkenalan denganmu. Bila kau butuh sesuatu, kau bisa menghampiriku di kelas 11-B. Di lantai enam.” kataku memberi instruksi.
“Baiklah. Aku mengerti,Rowan. Terima kasih. Bisakah kau nonaktifkan break-mu sekarang?”
Sepertinya ia sudah bosan bergandengan denganku. Ku nonaktifkan break-ku, waktu mulai berjalan kembali. Hal itu dapat kurasakan dari hempasan angin yang dari tadi tak bergerak. Ren langsung melepaskan genggaman tanganku dan kami berdua memasuki gerbang sekolah bersama siswa-siswa lainnya. Kami terpisah diantara puluhan siswa yang masuk ke gerbang sekolah. Jumlah mereka semakin banyak ketika jam berjalan menuju ke angka delapan. Ren pun tak terlihat lagi di antara kerumunan siswa-siswa ini.

Kulihat siswa-siswa sudah mulai berkumpul dilapangan sekolah untuk mengikuti upacara. Upacara untuk mengenang jasa Raja Clovis Hannes Harrison. Yang gugur dalam misi perdamaian di wilayah Asia pada 17 tahun tahun yang lalu. Upacara ini selalu diperingati setiap tanggal 25 Maret. Kudengar ada suara yang memanggil namaku berulang kali. Saat kuperhatikan sekelilingku, kulihat Shierly melambai-lambaikan tangannya dari tenda bagian panitia upacara yang bermaksud untuk memanggilku untuk menghampirinya. Dan betapa terkejutnya aku, di samping Shierly terdapat seseorang yang sepertinya wajahnya tak asing bagiku. Seorang pemuda seumuranku yang berambut pendek pirang keemasan, wajahnya bersih bak seorang bangsawan.
Saat aku berusah mengingat-ingatnya, ternyata aku melihatnya di televisi. Bila tak salah ia adalah Pangeran Jean Pierre Harrison, putra dari raja Britain ini... yang selalu megalahkan lawan bicaranya dalam sidang parlemen negara. Ia mendapat julukan Manusia Nobel Perdamaian, si Juru Diplomatik!

Chapter Four : Walking in The Silent -END-

To be Continued to Chapter Five-
Share

0 komentar:

Poskan Komentar