NOVEL "BREAKERS" : CHAPTER FIVE

Rabu, 01 Januari 2014

Saat aku berusaha mengingat-ingatnya, ternyata aku pernah melihatnya di layar televisi.
jika tak salah ia adalah Pangeran Jean Pierre Harrison,
putra dari raja Britain ini...
yang selalu mengalahkan lawan bicaranya dalam sidang parlemen negara.
Ia mendapat julukan Manusia Nobel Perdamaian,
Si Juru Diplomatik!

Chapter 5 : The Ceremonial

Pangeran muda ini berpakaian begitu formal dalam menghadiri upacara untuk mengenang jasa pamannya. Ia mengenakan kemeja dan celana bahan panjang warna putih, dihiasi dengan bros lambang kehormatan kerajaan Britain yang terpasang rapi di kemejanya ini. Bila kuhitung, terdapat 10 bros lambang dari kerajaan dipakainya. Mengingat ia sudah berjasa bagi kerajaan Britain dalam hal diplomatik dengan negara-negara lain. Hal itulah yang membuatku kagum, diusianya yang sangat masih muda atau mungkin seumuranku, ia sudah berjasa besar bagi negara yang menganut sistem monarki ini. Seandainya aku menjadi dia, berambisi untuk mencapai kehidupan yang mewah pun tak ada gunanya lagi. Karena semua yang diinginkannya pasti sudah dimiliki.

Teriakan Shierly memecahkan lamunanku tentang si pangeran muda, ia memanggilku untuk menghampirinya di tenda panitia.
“Kemana saja kau Rowan? Seharusnya kau sudah disini sejak pukul tujuh tadi untuk latihan terakhir. Dan sekarang kau datang jam berapa, Rowan?” kata shierly sambil menunjukkan jam tangan pink nya kehadapanku.
Kulihat pipinya menggembung seperti cemberut. Namun itu sudah biasa. Meskipun ia marah , kemarahannya hanya sesaat karena aku tahu sifat Shierly sejak kecil. Hanya dengan minta maaf sambil tersenyum bodoh pasti aku dimaafkannya. Itu adalah jurus jitu untuk menghadapi Shierly yang sedang marah.
 

”hehe..maafkan aku Shierly. Tadi aku bangun kesiangan gara-gara semalam menonton liga britain” jawabku berbohong sambil mengusap-usap kepala Shierly dengan tertawa kecil. Kulihat jean Pierre yang disampingnya tampak memandangku dan tersenyum kecil atas tingkahku.
“Sudahlah Shierly, yang penting sahabatmu ini datang sebelum upacara dimulai kan?” kata jean membelaku. Shierly pun mengangguk sebagai tanda bahwa ia telah memaafkanku. Aku sungguh berterimakasih kepada pangeran muda ini dengn tersenyum lebar kearahnya.
“Halo, kau Rowan Thomskin kan? Daritadi Shierly menceritakanmu. Hmm.. perkenalkan aku Jean Pierre Harisson V . cukup panggil aku Jean saja agar kita lebih akrab.” Lalu Jean sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Aku terkejut atas uluran tangannya. Seharusnya rakyat biasalah yang harus memberi salam dengan aturan yang berlaku jika bertemu dengan keturunan Raja. Sebuah salam sebagai bentuk kehormatan atas keturunan raja.

Aku bergegas membungkuk dan menundukan kepalaku serta tangan kananku meraih uluran tangan pangeran muda itu dengan formal. “Perkenalkan hamba, Pangeran Britain Jean Pierre Harisson V, saya Rowan Thomskin dari London. Saya selalu mengabdi terhadap kedigdayaan dan kejayaan Britain demi kemakmuran abadi.”ucap salamku sambil bangkit berdiri.

Ucapan salamku kulakukan dengan sepenuh hati, seperti seorang ksatria yang mengabdi sepenuh jiwa kepada Rajanya. Salam itu sudah harus dipelajari ketika anak-anak mulai duduk dibangku sekolah dasar dalam pelajaran “Tata Bahasa dan Norma”.
“haha.. tak perlu seformal itu , Rowan. Salam itu hanya pantas diucapkan untuk ayahku, bukan pada diriku. Jadi, jangan terlalu kaku begitu ya.. terimakasih atas salammu itu.” balas Jean sambil menepuk pundakku.
Tingkah laku Jean membuatku terkejut untuk kedua kalinya. Sebagai seorang keturunan raja, ia sama sekali tidak anguh terhadapku yang hanyalah rakyat biasa. Seandainya ia mewarisi tahta raja dari ayahnya, ia pasti akan didukung sepenuh hati oleh seluruh rakyat Britain tanpa terkecuali.
“Untung ada Jean,Rowan kali ini kau bebas dari hukuman. Berterimakasihlah kepada Jean” . Shierly tersenyum sambil menjewer telingaku. Bagiku jeweran ini adalah hukuman bagiku. Jeweran Shierly terkenal mematikan bagi anak yang melanggar peraturan di sekolah. Jean pun tampak mengangguk dengan tertawa pelan, sedangkan aku tertawa bodoh sambil meringis kesakitan.

Suara Lonceng akademi Marineford yang berada didepan atas lantai 6 itu bergema. Suara lonceng itu memecahkan semua aktivitas kami sebelum upacara dimulai. Lonceng emas yang cukup besar itu berbunyi lima kali, menandakan ada sebuah acara khusus, seperti upacara. Bila lonceng berbunyi tiga kali, menandakan kegiatan belajar telah usai. Aku yakin semua siswa lebih suka lonceng berbunyi tiga kali daripada lima kali. Suara lonceng itu menghentikan pembicaraan kami bertiga. Shierly menyuruhku masuk ke dalam tenda panitia untuk bersiap-siap sedangkan ia bersama Jean berjalan menuju bawah panggung upacara dimana kepala sekolah yang pengajar lainnya menunggu.

Aku masuk kedalam tenda, kulihat sebuah atribut dan topinya yang sengaja dipindahkan Shierly keatas meja sehingga memudahkanku untuk mencarinya. Kupakai atribut hiasan diseragamku, dan kupakai topi hitam anggota pemimpin barisan. Topi tinggi hitam itu cukup sulit memasangnya, karena tinggi, topi itu harus diikat dibawah daguku agar tak jatuh. Setelah semuanya telah siap terpasang ditubuhku, segera kukeluar tenda dan menyusul para pemimpin barisan lainnya yang tampak sudah bosan menungguku.
“Lain kali kau tak usah datang saja, Thomskin” sindir Hans, teman seangkatanku yang berbeda kelas. Sepertinya dia cukup jengkel karena aku tidak datang tepat waktu.
“maaf,Hans.” jawabku singkat.
“Sudahlah,Hans. Maafkan saja dia. Kita harus kompak. Ya kan Rowan?” sambung Derrick kakak kelasku yang selalu menenangkan suasana. Mungkin karena ia paling senior diantara kami.
“kuharap begitu. Semoga saja Thomskin tidak akan menggagalkan semuanya.” gerutu Hans dengan mencibirkan bibirnya.

Para siswa sudah berbaris sejak tadi menunggu kehadiran kami para pemimpin baris. Kami bertiga berjalan dengan hentakan kaki yang seirama dengan cukup keras ke tanah sambil membusungkan dada, menandakan kami telah siap memulai kegiatan upacara ini. Pemimpin barisan terdiri dari tiga orang, setiap pemimpin bertugas memimpin dan menjaga ketenangan tiap baris yang menjadi tanggungjawabnya. Kami masuk dari sisi kanan lapangan, Hans berhenti di sisi kanan. Ia bertugas menjaga barisan anak kelas 1. Sedangkan aku berhenti dibarisan tengah yang bertugas menjaga siswa kelas 2. sedangkan Derrick berjalan hingga ujung kiri untuk menjaga barisan siswa kelas tiga.
Barisan yang kupimpin adalah teman-teman seangkatanku yang jumlahnya bisa mencapai seratus lebih. Mereka berbaris lurus memanjang kebelakang sesuai gendernya. Sedangkan di belakang barisan siswa, terdapat guru pengawas yang bertugas menjaga ketertiban siswa. Yang paling mencolok adalah Mr.Brown , guru olahragaku yang sering memberi hukuman konyol kepada para siswa yang berisik yaitu berdiri dengan satu kaki. Mr.Brown memiliki tubuh yang besar dan kekar. Menurut gosip yang beredar disekolah, dulu sebelum menjadi guru Mr.Brown adalah seorang atlet tinju. Namun aku tak mendengar namanya ditelevisi. Mungkin dia hanya petinju biasa yang sering kalah di ring sehingga tak terkenal. Tetapi tak ada seorang siswa pun yang berani menentangnya disekolah ini kecuali orang yang bodoh. Bisa jadi dia adalah guru yang paling ditakuti seluruh siswa disekolah ini.

Pembina upacara kali ini adalah kepala sekolah kami, Mr.Robson. Beliau tampak naik ke panggung upacara yang dari kemarin telah disiapkan oleh para pekerja kebersihan sekolah ini. Mr.Robson naik ke panggung lalu diikuti oleh Pangeran Jean , seorang pria berbadan besar berpakaian rapi ( mungkin dia pengawal pangeran) lalu Shierly sebagai ketua dewan siswa dan disambung oleh para pengajar lainnya. Setelah mereka semua sudah berada dipanggung, aku membalikkan badanku kearah teman-teman seangkatanku. Kami bertugas menyiapkan barisan untuk memberikan hormat kepada pembina upacara. Aku cukup canggung melihat tatapan mata teman-temanku yang berjarak kurang lebih tiga meter dihadapanku. Mungkin mereka menertawakanku dalam hati, melihat siswa asosial yang jarang bersosialisasi memimpin barisan upacara ini. Ini semua gara-gara Shierly.
“Semua barisan,Siap Gerak” teriak kami bertiga bersamaan dengan penuh wibawa kearah tiap barisan yang kami jaga. Segera para siswa itu mengambil sikap siap setelah daritadi hanya sikap istirahat. Dari ratusan siswa yang berada dibarisanku kulihat seseorang yang mencolok. Siswi berambut hitam panjang dengan seragam yang berbeda sendiri.

Itu Ren. Ren Misumi yang memiliki kekuatan Break pembaca pikiran berada disela-sela siswa putri lainnya yang jauh lebih tinggi darinya. Ia tampak melihat lurus kedepan. Seperti melihatku, tapi menurutku ia lebih mungkin melihat Jean yang sedang berdiri diatas panggung disamping Mr.Robson. Mungkin ia mencoba membaca pikiran Jean, kekasih seperti apakah yang diidamkannya. Seandainya para siswi disini memiliki kekuatan membaca pikiran, pasti mereka akan mencari tahu siapa wanita idaman Jean. Jean memang sempurna, tak hanya kaum hawa yang memujanya, namun kaum adam juga memujanya sebagai sosok pemimpin masa depan yang berwibawa dan penerus raja Britain ini. Sungguh tak ada celah sedikitpun didalam dirinya.

Mr. Robson tampak maju kedepan mendekati mimbar berhiaskan taplak warna biru laut kebanggan MarineFord. Beliau tampak membetulkan mikrofon yang ada diatas mimbar itu agar tepat didepan bibirnya untuk memulai sambutannya.
Selamat pagi siswa Marineford College. Para staf pengajar dan yang saya hormati, tamu kehormatan kami Pangeran Jean Pierre Harrison V. pagi ini kita semua berkumpul disini untuk mengenang jasa Raja kita yang terdahulu, Raja Clovis Hannes Harrison yang gugur demi membela kedamaian dan martabat bangsa Britain ini.” kata Mr.Robson dengan tubuh tambunnya yang ditegakkan.
”Sebelum kita memulainya mari kita nyanyikan lagu kebanggaan sekolah kita” lanjutnya.
Iringan musik pasukan upacara ini dimulai. Tim pengiring musik yang berasal dari klub musik mulai memainkan alat musiknya masing-masing. Semua siswa mengangkatkan dagunya keatas dan menatap lambang Marineford dibawah lonceng emas sekolahku. Tangan kanan mereka mengepal dan diletakkan ke atas dada kiri mereka masing-masing. Dengan sikap hormat, kami menyanyikan lagu kebanggaan sekolah kami, Mars Marineford.

We are the Marineford Students
the biggest family in world
We are the Marineford Students
Glory in the way with us
We are the Marineford Students
Stand here for a better future
with love and pride
spread our wings to chase our dreams
with heart and smile
keep struggle to chase our world

Setelah selesai menyanyikan Mars Marineford, Mr.Robson melanjutkan pidatonya tentang sejarah kepahlawanan bangsa Britain hampir setengah jam. Kudengar suara siswa dibelakangku menguap karena lamanya pidato yang disampaikan Mr.Robson.
“Oleh karena itu, kita sebagai penerus bangsa ini mari lanjukan perjuangan mereka dengan memajukan bangsa Britain.” kata Mr.Robson menyudahi pidatonya.
“Pada kesempatan ini, kita kedatangan tamu kehormatan yang akan menyampaikan kata sambutannya, mari kita persilahkan, Pangeran Jean Pierre Harrison V“ kata Mr.Robson sambil menyilahkan Jean untuk maju ke mimbar yang digunakan Mr.Robson.

Jean maju ke mimbar dengan penuh kesiapan. Ia berjabat tangan dengan Mr.Robson sambil tersenyum sebelum mengisi meja mimbar yang ditinggalkan Mr.Robson. Jean hening sejenak, sambil membetulkan dasi kupu-kupu hitam dibawah lehernya.
“Selamat pagi Kepala sekolah akademi Marineford, para pengajar serta teman-teman yang saya cintai. Terimakasih atas waktu yang diberikan kepada saya. Waktu yang begitu berharga dalam kehidupan saya.” kata Jean membuka sambutannya.
“ Saya berdiri disini untuk menyampaikan harapan dan keinginan bangsa Britain terhadap kalian, para penerus bangsa ini. Sebelumnya saya harap teman-teman tidak perlu begitu formal terhadap saya, karena saya disini sebagai siswa baru MarineFord, dan sebagai teman anda semua.” Mata Jean tampak berbinar-binar.
Semua siswa begitu ramai karena terkejut sekolah mereka menerima siswa baru, seorang Pangeran. Kehadiran Jean bisa meningkatkan popularitas sekolah ini, mungkin itu yang dipikirkan Mr.Robson .
“dan juga untuk Mr.Robson, tak perlu memanggil saya dengan pangeran. Cukup panggil saya Jean.” kata jean sambil menoleh tersenyum kearah Mr.Robson.
Mr.Robson pun sempat salah tingkah dibuatnya. Jean menyampaikan sambutannya selama beberapa menit, semua siswa dibelakangku tampak tak bersuara karena begitu serius mendengarkan Jean yang pintar berbicara. Itu adalah keahlian Jean sehingga mendapatkan nobel perdamaian dari PBB.

“Sebagai bangsa Britain yang menjunjung tinggi rasa perdamaian dan martabat bangsa ini, kita sebagai penerus bangsa ini diwajibkan untuk mengerahkan segenap jiwa dan raga untuk membela tanah air kita ini. Mari kita tingkatkan kualitas bangsa kita. Taklukanlah dunia dan kuasailah itu!” seru Jean berkobar-kobar sambil membentangkan kedua tangannya kearah kami. Seperti mengangkat kami dari dasar belenggu rantai kehidupan menuju permukaan mimpi yang tak terbatas.
Semua siswa yang hadir di upacara ini begitu tercengang mendengar perkataan jean. Para siswa yang hanya belajar pelajaran ini tak pernah berpikir sama sekali untuk menaklukan dunia. Semua peserta upacara memberi applause yang meriah serta siulan untuk memuji perkataann Jean itu. Semangat kami mulai terbakar seperti semangat pasukan yang akan pergi berperang, berperang untuk menaklukan dunia dan menancapkan bendera Britain di seluruh permukaan bumi. Tak kusangka Jean yang berkepribadian baik dan sopan itu, ternyata harus memikul beban yang berat sebagai keturunan raja bangsa ini. Ambisi seperti apakah yang ada pada dirimu Jean?

Chapter Five : The Ceremonial -END-
To be Continued to Chapter Six-

Share

0 komentar:

Poskan Komentar