NOVEL "BREAKERS" : CHAPTER EIGHT

Kamis, 23 Oktober 2014
            Beberapa kali panggilanku tak kunjung diangkat oleh ayahku.
Mungkin beliau sedang sibuk dengan pekerjaannya.

Akhirnya jemariku mengetik sebuah pesan singkat untuk ayahku.
kapan kau pulang,dad? Aku merindukanmu.Rowan”


CHAPTER EIGHT : Participant

Aku bergegas membereskan bawaan yang harus kubawa, saat ku sedang melipatkan sweaterku, bel apartemenku berbunyi. Suara nyaring yang berasal dari arah pintu masuk cukup memekakkan telingaku. Kuintip dari dalam lubang pintu apartemenku untuk melihat keluar. Ternyata Ren sudah datang menjemputku sore ini. Sepertinya ia selalu tepat waktu bila mengadakan perjanjian dengan orang lain. Dari lubang sempit itu, kulihat Ren  menggunakan jaket hitam tebal yang dibaluti dengan syal kuning dilehernya. Rok merah marun juga menghiasi tampilannya sehingga tampak terlihat elegan. ditambah sepasang sepatu boots hitam yang menutupi kedua kakinya yang indah. Kubukakan pintuku untuk mempersilahkannya masuk.
            “Hai Ren. Sepertinya kau mudah menemukan apartemenku. Ayo masuklah. maaf jika berantakan.”
            “tak apa Rowan. Tanpa membaca pikiranmu pun aku tahu kau orang yang jorok.” sindirnya. Sepertinya ia senang sekali menyindirku. “apakah kau sudah siap?”


            aku menggelengkan kepalaku. “sebentar lagi.aku harus merapikan bawaanku dan membersihkan apartemenku sebelum kutinggal selama sebulan. Oiya apa alasanku agar bisa bolos dari sekolah?” tanyaku sambil duduk di sofa apartemenku.
            “Bukannya tadi disekolah kau bilang padaku bahwa kau akan beralasan menjaga saudaramu yang sakit?” tanya Ren sambil melepaskan syal yang membaluti lehernya. Saat ku membereskan pakaianku,  Ren tiba-tiba membantuku merapikan pakaian yang berserakan di di sofa.
            “sudahlah Ren. Kau tak perlu merapikan barangku. Biar aku sendiri saja.” ucapku untuk tidak merepotkannya.
            “Tak apa, Rowan. Agar kita bisa menghemat waktu.”
            “ Apakah perlu kugunakan break-ku?” tanyaku sambil menatap wajahnya. Kami diam sejenak dan dilanjutkan dengan suara kami yang  tertawa keras.

            Setelah semua selesai, ku kunci pintu apartemenku, dan kutitipkan pada bibi Ruth. Bibi Ruth agak terkejut dengan keputusanku untuk pergi ke Manchester. “Apa kau yakin akan meninggalkan kegiatan sekolahmu selama selama sebulan? Itu terlalu lama Rowan.” ucap bibi Ruth mencemaskanku.
            “Iya bi. Aku harus menjaga saudara ayah yang sedang sakit.” jawabku bohong. Semoga saja bibi Ruth tidak menelepon ke ayahku tentang masalah ini. Lagipula bibi juga tidak memiliki nomor ayahku.
            “ tenanglah bi, lagipula nilaiku yang tinggi masih cukup untuk mengisi nilaiku yang kosong selama sebulan.” jawabku sombong. Terlihat senyuman tersungging dari bibi Ruth tanda percaya. Sekali lagi aku merasa tertekan atas kebohongan yang kulakukan. Sebelum kami berangkat, bibi Ruth memberikan kami dua buah pie rasa apel hasil buatannya sebagai bekal saat perjalanan nanti.


            “terimakasih bibi.” jawab Ren sambil tersenyum.
            “You're welcome,cantik. Rowan, apakah dia kekasihmu?” Goda bibi Ruth sambil menyikut lenganku. Muka ku tiba-tiba memerah. Tak kusangka bibi Ruth memiliki sifat humor seperti ini.
            “Bukan,bi. Dia teman sekelasku.” jawabku salah tingkah sambil menatap Ren. Sepertinya Ren juga malu, seperti biasanya ia menundukkan kepalanya.
            “Hahaha dasar anak muda. Baiklah aku tak mau mengganggu kalian. Semoga perjalanan kalian menyenangkan.” kata bibi ruth sambil menepuk pundak kami berdua.

            Kami berdua akhirnya tiba di stasiun London. Setelah membeli karcis kereta ekspress tujuan Manchester, kami masuk menuju peron tempat menunggu kedatangan kereta. Jantungku masih berdegup kencang. Aku sedikit ragu, apakah aku bisa mengikuti pelatihan ini? Apakah aku bisa menyembunyikan kekuatanku ini? Namun aku harus optimis. Untuk menjadi seorang Breakers.
Suasana di stasiun ini cukup ramai. Aku bersama Ren menunggu dijalur 4 yang terdapat papan digital menunjukan arah tujuan manchester. Di papan digital itu kereta ekspress akan tiba distasiun ini sekitar 5 menit lagi. Cukup cepat pikirku. Kukira aku akan menunggu selama berjam-jam.

            Kereta bewarna putih susu melintas dijalur 4, tempat kami menunggu. Suara roda yang bergesekan dengan rel kereta ini cukup keras sehingga membisingkan telingaku. Kerta ekspress tujuan manchester telah tiba di stasiun London . Aku dan Ren menaiki tangga sambungan untuk masuk ke gerbong tujuh. Lalu aku menuju  nomor tempat duduk ku yang tertera di karcis yang aku beli.  Dan aku baru tahu, bahwa tempat duduk kami ternyata berhadapan. Berarti selama perjalanan aku akan selalu melihat wajah Ren. Entah aku harus bahagia atau sedih. Bila kuperhatikan, pandangan matanya kini terlihat lebih ramah sehingga lebih enak untuk dipandang. Kulihat pemandangan perkotaan dari kaca jendela. Saat ini London sedang dilanda hujan yang cukup lebat. Semoga saja hujan sudah reda saat kami tiba di Manchester.

            Sejak naik kereta hingga sekarang, aku belum berbicara lagi dengan Ren, aku masih malu atas humoran bibi Ruth. Aku harus mencairkan suasana. “Bagaimana pengalamanmu mengikuti latihan itu?”
            “Kau ingin tahu? Singkat saja ya. Dari ratusan peserta, hanya aku yang berhasil.” jawab Ren sambil menatap keluar jendela.
            Aku sedikit terkejut. “ Hanya kau saja? Lalu bagaimana dengan yang lainnya?”
            “Aku tak tahu. Menurut para anggota ARMS, para peserta yang gagal mengikat kontrak dengan suku Nirvith akan di hapus ingatannya. ARMS akan menghapus ingatannya tentang hal-hal yang berkaitan dengan break maupun dengan jiwa suku Nirvith didalamnya. Atau bisa dikatakan ARMS akan memusnahkan jiwa suku Nirvith yang ada didalam tubuh peserta.” jawab Ren.
            Aku sangat terkejut atas penjelasan Ren.  Seandainya mereka mengetahui jika aku memiliki kekuatan break, mereka akan menghukum mati diriku. Dan seandainya aku gagal pelatihan mereka akan menghapus ingatanku? Apakah yang harus kulakukan? Aku bagaikan seonggok daging yang akan dilempar ke kandang singa atau kandang buaya.
            “Jadi intinya, aku harus berhasil kan? Kenapa kau tak bilang konsekuensinya dari awal tadi? Kalau tahu begini aku tak akan ikut  pelatihan apapun  yang hanya  menyia-nyiakan nyawaku!” tanyaku geram. Emosi sudah menguasai tubuhku.
            Ren tiba-tiba menggengam tanganku. “Maafkan aku Rowan.. bukan maksudku untuk mencelaka...”
            “lepaskan!” jeritku menampik genggaman tangannya. Semua penumpang di kereta ini tampak memandang kearah kami dengan ekspresi yang tidak suka. Sepertinya jeritanku mengganggu mereka.
Ren kini hanya tertunduk. Terdengar isakan kecil dibalik raut wajahnya yang ia sembunyikan. Ia menangis. Kulihat kepalan tangan diatas pahanya tampak gemetaran. Baru kali ini aku membuat seorang gadis menangis. Aku cukup tersentak atas reaksi Ren. Ia sudah minta maaf atas kesalahannya padaku namun aku menolaknya dengan kasar.
             Kuraih kedua tangannya yang masih gemetaran. Kugenggam kedua tangannya yang masih kaku namun lama-kelamaan ia mau menerima genggaman tanganku. Kedua tangannya terasa hangat dan basah oleh air matanya. Kehangatan ini meluluhkan api amarah yang bergejolak didalam hatiku. Aku sempat berfikir bahwa aku adalah kelinci percobaan baginya. Namun akhirnya aku bisa memaklumi bahwa itu semua bukan kemauan Ren, tapi organisasinya. Seandainya aku berada di posisi Ren, pasti aku akan melakukan hal yang sama seperti Ren. Apakah aku telah menyakiti perasaannya?

            Kugenggam erat-erat kedua tangannya dan isakan tangisnya sepertinya sudah berhenti, namun Ren masih tertunduk.  Kulepaskan genggamanku. Ia tampak sedikit tersentak. Sepertinya ia tak membaca pikiranku dan mengira bahwa aku membencinya. Aku maju selangkah dari tempat duduk ku dan berjongkok. Ku angkat kedua pipinya dan wajah kami kini berhadapan. Tampak kedua matanya masih berair. “Maafkan aku Ren atas tindakanku yang kasar. Aku justru berterimakasih karena kaulah yang membimbingku untuk memiliki kekuatan ini.”

            “Lain kali jangan pernah teriak dihadapanku, bodoh” jawab Ren sambil terisak-isak. Aku hanya tersenyum lebar sebagai tanda minta maaf sambil mengusap-usap kepalanya.
            “Iya, aku janji. Sudahlah jangan menangis lagi. Aku paling tak bisa membuat gadis sepertimu menangis.” godaku. Kusodorkan sapu tangan yang ada dikantung celanaku. “Bersihkan ingusmu. Kau jorok sekali.” usahaku berhasil. Ren tertawa didalam tangisan kecilnya.

            Aku terbangun dari tidurku saat kereta tiba-tiba berhenti. Sepertinya kami sudah tiba di Manchester. Kulihat Ren sudah berkemas-kemas untuk turun dari kereta.”Sampai kapan kau mau bersantai-santai,pemalas? Kita sudah sampai.”
            “iya cerewet.” jawabku sambil menggosok kedua mataku. Kini Ren kembali seperti biasanya dan lebih ceria. Ternyata sifat gadis ini memang sulit ditebak.
            Saat kami turun dari gerbong kereta, tak jauh didepan kami tampak seseorang seperti menunggu kami, karena tatapan matanya tertuju pada kami.  Seorang Pria setengah baya  kurus tinggi yang memakai setelan jas hitam dan kacamata hitam. Pandangannya terus kearah kami dan melangkah ketempat kami berada. “Selamat datang kembali di Manchester, Ren Misumi. Apakaah perjalananmu menyenangkan?” salam pria itu sambil berjabat tangan dengan Ren.
            “Terimakasih, Riot. Sebenarnya kau tak perlu repot-repot menjemput kami. Tentu saja perjalanan kami menyenangkan.” Jawab Ren berbohong. Padahal dia menangis selama diperjalanan.
            “Hm.. apakah ini bocah yang memiliki potensi itu?” Tatapan mata Pria yang bernama Riot itu kini menatapku. Seolah menerawangku dari balik kacamatanya apakah aku memiliki kekuatan break atau tidak.
            “Perkenalkan, dia Rowan Thomskin. Salah satu peserta pelatihan. Dan Rowan, dia Riot Pieterson. Salah satu petinggi ARMS.” Ren memperkenalkan kami berdua. Saat aku mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan, Pria kurus itu tak menyambutnya. Ia langsung membalikan badan dan berjalan menuju pintu keluar stasiun. Sungguh menyebalkan orang tua sombong ini.
            Mobil sedan Porsche hitam datang menghampiri kami yang berdiri di pintu keluar stasiun. Sepertinya mobil mewah ini akan mengantarkan kami ke markas organisasi ARMS. Aku duduk dibelakang bersama Ren. Sedangkan Riot duduk didepan bersama supir yang tak kalah rapinya dengan menggunakan setelan jas hitam.
            “Baiklah bocah. Apakah kau siap? Semoga saja kau berhasil. Kau tahu akibatnya kan jika gagal?” Riot menoleh kearah kami.
            Aku menelan ludahku. Aku gugup dengan pertanyaan itu. Sejujurnya aku masih tak siap. Aku diam sejenak. “ya aku tahu. Dicuci otak kan?” tanyaku dengan gugup.
            “Ya, dicuci otak. Kau akan melupakan tentang break,jiwa suku nirvith, dan organisasi kami. Atau lebih tepatnya kami menyegel kekuatan yang gagal itu.” ucap Riot.
            Melupakan tentang organisasi ARMS? Apakah artinya aku akan melupakan Ren juga? Sejujurnya aku tak ingin ingatanku akan Ren juga dihilangkan. Sepertinya organisasi ini sungguh rahasia.
            “Dan kau Ren, apakah kau sudah mendapat pecahan batu itu?” kini giliran Ren yang ditanya.
            “Sudah. Aku mendapatkan batu itu saat bertemu pertama kali dengan Rowan. Kini batu itu aman pada kami.” jawab Ren tanpa ekspresi.
            “Wah.. kerja bagus Ren! Dengan adanya batu ditangan kita, kita bisa menjaga kestabilan dunia.” jawabnya dengan santai.
            “kestabilan dunia? Apa maksudnya?”tanyaku penasaran.  Riot diam sejenak. Ia menoleh kebelakang dan ekspresi mukanya berubah menjadi marah. “Kau ingin tahu? Luluslah dari pelatihan ini baru kau bisa ikut campur, bocah!!” teriak Riot dengan sangat kencang. Semua yang ada didalam mobil kecuali Riot sendiri tampak kaget . Aku hanya terdiam karena teriakan Riot. Badanku gemetaran.
            “Hentikan itu Riot! Bisakah kau bicara dengan santai saja?” jawab Ren dengan jengkel. Ia membelaku.
            “hahaha. Asal kau tahu saja bocah. Jangan pernah menyela pembicaraan orang lain! Mengerti?” jawab Riot sambil mengetuk-ngetuk dahiku beberapa kali. Sepertinya dia mempermainkanku. Emosi menjalar keseluruh tubuhku. Ingin sekali kugunakan break-ku sebentar, lalu kuhajar habis-habisan wajahnya hingga babak belur tanpa dia sadari siapa yang memukulnya. Namun itu adalah pemikiran pengecut. Aku harus mengontrol emosiku.
            Suasana perjalanan ini begitu hening setelah teriakan Riot tadi. Akupun terdiam dan hanya diamlah yang bisa kulakukan saat ini. Tiba-tiba tangan Ren menggengam tangan kananku.       “sabarlah,Rowan. Perjuanganmu baru akan dimulai.” bisik Ren . Kubalas hiburan itu dengan tersenyum kecil. Cuaca manchester sore ini dihiasi dengan rintik-rintik hujan. Tidak seperti di London yang hujan lebat. Tetesan-tetesan air  menerpa kaca mobil yang kusandari dengan kepalaku.
            Setengah jam perjalanan kami akhirnya berhenti disebuah pabrik besar yang sepi. Terdapat papan yang bertuliskan “Dilarang Masuk” terpasang dipagar kawat yang memagari halaman pabrik tersebut. Pintu gerbang baja yang cukup tebal itu terbuka otomatis saat mobil ini mendekati pintu gerbang masuk menuju halaman pabrik. Dihalaman pabrik itu terdapat puluhan mobil sedan porsche seperti yang kutumpangi berbaris berjejer didepan gedung pabrik itu. Saat mobil yang kutumpangi mencari tempat untuk berhenti, mataku tertuju pada salah satu mobil lainnya yang menurunkan penumpang. Seorang pemuda berbadan kekar yang mungkin seusiaku, dengan rambut pirang yang pendek cepak seperti calon wajib militer. Sepertinya dia salah satu peserta pelatihan ini.
            “Baiklah Tuan-tuan. Tujuan kita telah sampai. Silahkan turun dari mobil.” kata supir mobil ini yang daritadi hanya diam selama perjalanan.
            “Terimakasih pak.” jawab Ren dengn tersenyum. Aku, Ren dan Riot turun dari mobil itu dan menuju pintu masuk. “Aku akan mengantar kalian kedalam. Jadi ikuti aku bila tak ingin tersesat.” ucap Riot kepada kami.
            “Tak perlu kau antar aku juga sudah tahu tempat ini,Riot.” kata Ren dengan ekspresi muka yang dingin. Sepertinya ia masih marah terhadap perlakuan Riot terhadapku.
            “Yah terserah kau sih.” jawab Riot sambil memasukkan ID Card nya ke pintu masuk kedalam gedung pabrik itu. Saat pintu masuk terbuka, didalam gedung ini kosong. Tak ada peralatan apapun kecuali sebuah lift diujung gedung ini. Hal yang membingungkan bagiku. Padahal pabrik ini tak mempunyai lantai diatasnya, tapi mengapa ada lift? Saat pintu lift terbuka, aku ikut masuk.
            “Baiklah,Kita akan menuju ke basemen.” jawab riot sampai menekan tombol paling bawah “UG50” . Berati markas rahasia ARMS berada dibawah tanah? Sungguh mengejutkan. Lift yang kami tumpangi akan terjun menuju 50 lantai dibawah permukaan gedung pabrik tadi. Butuh sekitar lima belas menit didalam lift sehingga membuatku mual ingin muntah. Tapi sepertinya Riot dan Ren sudah terbiasa dan menikmati sensasi terjun bebas ini.
            “kapan lift ini akan sampai tujuan?” tanyakun menggerutu.
            “apa kau bodoh?.tentu saja jika lift ini sudah berhenti!” jawab Riot dengan kasar.
            Akhirnya lift berhenti dan untung saja aku tidak muntah saat didalam lift. Seandainya aku muntah, Riot pasti akan memarahiku habis-habisan. Saat aku keluar dari lift, dasar basement ini tampak luas sekali. Batu-batu granit menghiasi dinding-dinding bangunan ini.  Di basement ini juga banyak sekali anak-anak seumuran denganku. Mereka saling bercengkerama antara satu dengan yang lain. Kulihat dari fisik mereka sepertinya mereka berasal dari etnis-etnis yang tersebar diseluruh dunia. Aku tak menyangka, sebanyak inikah calon peserta yang akan memiliki kekuatan break?
            “Baiklah Ren. Aku harus bergabung dengan jajaran pemimpin lainnya. Bisakah aku bawa batu itu sekarang?” kata Riot sambil menyodorkan telapak tangannya.
            “Rowan, berikan batu itu pada Riot.” perintah Ren.  Kubuka ranselku dan kuambil bungkusan putih yang menyelimuti batu merah itu. Saat hendak kuserahkan batu itu, Kedua matanya tampak terbuka lebar seakan tak sabar untuk menyentuh batu itu. “Terimakasih Bocah. Semoga kau berhasil.” Ucap Riot dengan mata liciknya lalu meninggalkan kami.


            “Rowan, akhirnya kita sampai disini. Satu pesanku, jangan sampai kau gunakan break-mu ataupun berkonsultasi dengan Tulo. Karena diruangan ini terdapat suatu batu yang bisa mendeteksi kekuatan break. Bahkan akupun tak berani menggunakan kekuatanku.” ucap Ren memperingatkanku.
            “Terima kasih,Ren. Aku akan berusaha sekuat tenagaku.” jawabku tegar. Kami terdiam sejenak. Mata kami bertatapan untuk kesekian kalinya.
            “Aku harus pergi.” jawab Ren pelan.
            “Pergi? Berarti kau tak disini selama aku pelatihan?” tanyaku tersentak kaget untuk kesekian kalinya. Aku butuh Ren untuk menyemangatiku selama aku disini.
            “Tenang saja, Rowan. Aku akan menjengukmu setiap seminggu sekali.” jawab Ren menghiburku dengan senyumannya. Kami pun masih terdiam. Tiba-tiba Ren memelukku. Seolah tak ingin meninggalkanku sendiri disini. Kebersamaanku dengannya telah menimbulkan suatu rasa yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku masih diam mematung. Aku tak berani membalas pelukannya. “aku pasti akan kembali.” bisik Ren dengan lembut lalu melepaskan pelukannya setelah beberapa detik.
             Aku hanya terdiam melihat Ren berbalik arah dan meninggalkanku langkah demi selangkah menuju lift yang mengantarkan kami tadi. Mata kami kembali bertatapan saat pintu lift akan tertutup dan membawa Ren kembali ke permukaan gedung. Dan aku melihat senyuman manisnya terlontar dari bibirnya. Semoga ini bukan senyuman terakhirnya yang bisa kulihat. Aku harus berusaha menjadi anggota ARMS, atau lebih tepatnya aku harus berusaha agar ingatanku tentang Ren tak akan dihilangkan.
            Suara bising mikrofon yang berasal dari beberapa spaker yang menempel di pilar-pilar gedung ini berbunyi. “Semua peserta pelatihan anggota ARMS diharapkan berkumpul di balkon utama untuk menerima pengarahan selanjutnya”. Para pendamping peserta mulai meninggalkan para peserta pelatihan dan menuju lift seperti yang dipakai Ren untuk meninggalkanku.  Aku segera berlari kecil menyusul rombongan para peserta lainnya yang tak jauh didepanku. Kerumunan anak muda yang mungkin berjumlah hampir seratus orang ini terdengar berisik sekali. Sebanyak inikah orang yang memiliki potensi kekuatan break?
            Kami semua menuju balkon yang terdapat sebuah mimbar dan dibelakangnya terpasang layar raksasa seperti yang ada dibioskop. Aku tak tahu apakah ada sesi perkenalan organisasi ini seperti saat pengenalan klub ekstra di sekolah.  Saat berada dikerumunan, terdapat keributan kecil. Seorang pemuda berbadan kurus terjatuh karena menyenggol seorang anak berbadan kekar, yang kulihat dihalaman parkir tadi. “Hei tak bisakah kau menyingkirkan badanmu saat aku lewat,Bung?” teriak pemuda berbadan kurus serta berkulit gelap itu. Wajahnya seperti berasal dari  Indie.
            Pemuda berbadan kekar itu hanya melirik kearah pemuda kurus itu lalu megacuhkannya lagi. Sepertinya ia tidak tertarik meladeni ocehan itu. Namun juga enggan meminta maaf.
            “Hei Singh, apakah perlu kami membantumu menghajarnya? Ahhahaha..” teriak salah satu pemuda berambut jabrik dan memiliki tindik dihidungnya. Dinamepacknya tertulis nama Leandro.
            “Tak perlu Lean. Manusia kekar ini sepertinya bisu. Atau dia tak mengerti bahasa manusia?” balas pemuda yang bernama Singh itu terhadap provokasi yang berasal dari Leandro. Gelak tawa membanjiri kerumunan itu setelah Singh membuat lelucon yang bagiku sangat tak lucu. Namun herannya beberapa dari mereka tampak menikmati hiburan ini. Tampak beberapa gerombolan gadis juga terpikat oleh provokasi yang diucapkan Leandro.
           
            Di tengah suara tawa itu, tiba-tiba muncul suara benturan keras terdengar diantara kerumunan itu. Pemuda kekar itu menghantam bibir Singh dengan tinjuannya . Singh pun terjatuh tersungkur ke lantai dan darah mengucur deras dar bibirnya, mungkin giginya juga ada yang rontok. Mata Singh mulai berair ketakutan sambil menutupi bibirnya dengan kedua tangannya.
            “Hentikan celotehanmu sebelum kuhancurkan mulutmu itu!” kata Pemuda kekar itu terhadap Singh. Suasana kerumunan ini menjadi hening. Tak ada suara yang berani membalas ucapan pemuda kekar itu. Leandro sang provokator pun hanya terdiam mematung seperti tak ingin menjadi korban berikutnya.
            “Hentikan! Apa yang terjadi? “ teriak salah seorang gerombolan pasukan berseragam dengan logo segitiga  bertuliskan ARMS di baju mereka. “Laundrup! Apa yang kau lakukan? Jangan membuat keonaran disini jika kau masih ingin mengikuti pelatihan!” teriak seorang wanita diantara pasukan ARMS.
            “Lebih baik kalian mengajari dia cara berbicara yang benar dahulu sebelum pelatihan ini dimulai.” balas Laundrup. Semua  peserta yang ada dibasement ini tampak tercengang melihat Laundrup berani melawan anggota ARMS.
            “Cukup Laundrup. Tak seharusnya kau membantah. Lebih baik segera panggil tim medis untuk merawat Singh.“ komando seorang pemuda yang cukup gagah itu terhadap rekan anggotanya.  “sebentar lagi pemimpin ARMS akan hadir disini. Bisakah kalian berbaris rapi?” lanjut pemuda itu yang ternyata bernama Petra Vilosovki, nama yang tercantum di ID Card nya.

            Aku hanya bisa terdiam didalam keributan kecil ini. Aku tak berani ikut campur dalam mengatasi permasalahan sepele yang akhirnya menjadi besar seperti ini. Apakah yang harus kulakukan? Apakah aku akan berhasil menjadi anggota ARMS dengan mengalahkan peserta-peserta seperti mereka?


TO BE CONTINUED

the previous chapter :

Chapter one : Hidden Potential
Chapter three : Breaking Time
Chapter four : Walking in The Silent
Chapter five : The Ceremonial
Chapter six : Special Friends
Chapter seven : ARMS


Please leave a comment for this blog !! I hope can continued this project !! ^^


Share

0 komentar:

Poskan Komentar